Jumat, 24 Februari 2012

TIPS MAKANAN DALAM EKSPEDISI

Makanan dalam sebuah kegiatan ekspedisi sangat penting artinya untuk menjaga stamina tubuh. Sama pentingnya seperti menjaga kondisi tubuh dengan berlatih fisik yang baik. Tapi latihan fisik selama pra-ekspedisi dan ekspedisi tanpa diimbangi dengan masukan makanan yang berimbang secara gizi bisa menjadi blunder terbesar yang tak bisa dimaafkan. Jadi, sebelum kita melakukan sebuah perjalanan ekspedisi yang berdurasi lama, rasanya perlu juga dipersiapkan manajemen makanan yang sudah dipikirkan masak-masak oleh sang pemimpin perjalanan. Sebaiknya pemimpin perjalanan mendelegasikan tanggung jawab hal makanan ini kepada orang yang berkompeten di bidangnya. Tugas pelaksana tersebut termasuk juga dalam hal perencanaan dan pengorganisasian makanan sebelum dan selama ekspedisi berlangsung. Mengenai poin-poin yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan manajemen makanan dalam perjalanan adalah, pertama harus diperhatikan masalah kemampuan daya angkut beban yang bisa dibawa anggota ekspedisi, kemudian perhitungkan juga berapa lama ekspedisi akan berlangsung, serta perhatikan iklim dan medan yang akan ditempuh oleh anggota ekspedisi. Sedangkan mengenai pengelompokan persediaan makanan apa saja yang akan diperlukan dalam ekspedisi nantinya, bisa disesuaikan dengan kegiatan masing-masing anggota ekspedisi di luar dan saat kembali ke base camp, perhitungan kebutuhan masing-masing sub-unit kegiatan (bila ada) dan manajemen penyediaan air di lapangan serta jangan lupakan tentang pengadaan makanan untuk keadaan darurat. Pertimbangan yang paling berpengaruh dalam hal memilih jenis makanan apa saja yang akan dibawa adalah tentang berat makanan, nilai gizi, kualitas bahan pembungkus, tingkat kelezatan dan kemudahan menyiapkan serta ukuran besar kecilnya paket makanan. Selain menyiapkan hal-hal di atas, seorang pengelola makanan dalam ekspedisi juga harus sudah memperhitungkan dalam hal teknis memasak. Format kegiatan, apa saja yang akan dilakukan dan lokasi kegiatan ekspedisi menjadi acuan bagaimana dan apa saja yang harus dipersiapkan. Jika harus memasak dalam jumlah besar kalau bisa tinggalkan selalu satu orang dalam basecamp yang khusus ditugaskan untuk memasak dan menjaga kebersihan basecamp (basecamp manager). Sediakan masakan kudapan saat anggota ekspedisi sedang mengadakan taklimat. Juga perhatikan selalu masalah kebersihan basecamp, apalagi bila basecamp harus berdiri lebih dari satu minggu di satu lokasi. Selain perencanaan dalam hal makanan, pengelolaan air bersih juga harus dipikirkan masak-masak. Air harus selalu dalam kondisi baik, minimal secara fisik (tidak berbau, berwarna dan berasa). Selain memperhitungkan masalah kualitas juga perhitungkan masalah kuantitas air. Seorang manusia normal membutuhkan air sekitar 2-3 liter per hari. Bisa lebih bila kegiatan berlangsung dalam daerah berkondisi panas. Siapkan juga selalu bahan bakar parafin ekstra untuk memasak air dalam waktu lima menit. Selalu asumsikan air yang kita peroleh kotor sehingga kita akan selalu memasaknya terlebih dahulu sebelum meminumnya. Mengenai hal mencari air dalam keadaan darurat mungkin bisa dibaca dalam buku-buku pedoman untuk keadaan darurat, tapi sedikit pengetahuan air bisa didapatkan dari atap-atap tenda pada pagi hari dan saat hari hujan. Pemakaian pemanis seperti rasa jeruk dapat digunakan untuk menarik minat meminum air tersebut. Jika ingin memilih tempat bawaan untuk air jangan membawa yang berkapasitas lebih dari 20 liter, karena selain memberatkan juga menyulitkan. Perlu diingat di ketinggian biasanya orang lebih cepat haus karena terserap paru-paru. Hal ini disebabkan karena paru-paru mengambil oksigen yang terkandung pada air di dalam tubuh, yang disebabkan tipisnya kadar oksigen yang ada di daerah ketinggian. Jadi disarankan bawa air berlebih pada kegiatan perjalanan ekspedisi di daerah ketinggian. Jadi mulai sekarang lupakan meremehkan hal-hal yang berbau makanan dalam perjalanan. Kalau bisa buat senikmat mungkin makanan yang akan kita makan dalam perjalanan nanti, tentunya dengan tidak melupakan faktor gizi yang berimbang. Jadi, tidak akan ada lagi cerita kuping ” budeg” gara-gara kebanyakan makan mie

MOUNTAINEERING


I. PENDAHULUAN
Aktivitas mendaki gunung akhir-akhir ini nampaknya bukan lagi merupakan suatu kegiatan yang langka, artinya tidak lagi hanya dilakukan oleh orang tertentu (yang menamakan diri sebagai kelompok Pencinta Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya). Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang dari kalangan umum. Namun demikian bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang keterampilan yang mudah dan tidak memiliki dasar pengetahuan teoritis. Di dalam pendakian suatu gunung banyak hal-hal yang harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta alam) yang berupa : aturan-aturan pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan, cara-cara yang baik, untuk mendaki gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang tercakup dalam bidang Mountaineering. Mendaki gunung dalam pengertian Mountaineering terdiri dari tiga tahap kegiatan, yaitu :
1. Berjalan (Hill Walking)
Secara khusus kegiatan ini disebut mendaki gunung. Hill Walking adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Kebanyakan gunung di Indonesia memang hanya memungkinkan berkembangnya tahap ini. Di sini aspek yang lebih menonjol adalah daya tarik dari alam yang dijelajahi (nature interested)
2. Memanjat (Rock Climbing)
Walaupun kegiatan ini terpaksa harus memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia tetap merupakan cabang darinya. Perkembangan yang pesat telah melahirkan banyak metode-metode pemanjatan tebing yang ternyata perlu untuk diperdalam secara khusus. Namun prinsipnya dengan tiga titik dan berat dan kaki yang berhenti, tangan hanya memberi pertolongan.
3. Mendaki gunung es (Ice & Snow Climbing)
Kedua jenis kegiatan ini dapat dipisahkan satu sama lain. Ice Climbing adalah cara-cara pendakian tebing/gunung es, sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik pendakian tebing gunung salju.
Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu didalamnya telah mencakup : Mountcamping, Mount Resque, Navigasi medan dan peta, PPPK pegunungan, teknik-teknik Rock Climbing dan lain-lain.

II. PERSIAPAN MENDAKI GUNUNG
1. Pengenalan Medan
Untuk menguasai medan dan memperhitungkan bahaya obyek seorang pendaki harus menguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompas serta altimeter.
Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara lain untuk mengetahui medan yang akan dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-orang yang pernah mendaki gunung tersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikut sertakan orang yang pernah mendaki gunung tersebut bersama kita.
2. Persiapan Fisik
Persiapan fisik bagi pendaki gunung terutama mencakup tenaga aerobic dan kelenturan otot. Kesegaran jasmani akan mempengaruhi transport oksigen melelui peredaran darah ke otot-otot badan, dan ini penting karena semakin tinggi suatu daerah semakin rendah kadar oksigennya.
3. Persiapan Tim
Menentukan anggota tim dan membagi tugas serta mengelompokkannya dan merencanakan semua yang berkaitan dengan pendakian.
4. Perbekalan dan Peralatan
Persiapan perlengkapan merupakan awal pendakian gunung itu sendiri. Perlengkapan mendaki gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar karena ini merupakan pelindung keselamatan pendaki itu sendiri. Gunung merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita yang terbiasa hidup di daerah yang lebih rendah. Karena itu diperlukan perlengkapan yang memadai agar pendaki mampu menyesuaikan di ketinggian yang baru itu. Seperti sepatu, ransel, pakaian, tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan masak, makanan, obat-obatan dan lain-lain.

III. BAHAYA DI GUNUNG
Dalam olahraga mendaki gunung ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya suatu pendakian.
1. Faktor Internal
Yaitu faktor yang datang dari si pendaki sendiri. Apabila faktor ini tidak dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan bahaya subyek yaitu karena persiapan yang kurang baik, baik persiapan fisik, perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan dan mental.
2. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang datang dari luar si pendaki. Bahaya ini datang dari obyek pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik disebut bahaya obyek. Bahaya ini dapat berupa badai, hujan, udara dingin, longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung Indonesia umumnya disebabkan faktor intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang berlebihan dan dorongan hati untuk pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh semua orang serta keterbatasan-keterbatasan pada diri kita sendiri.

IV. LANGKAH-LANGKAH DAN PROSEDUR PENDAKIAN
Umumnya langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok pencinta alam dalam suatu kegiatan pendakian gunung meliputi tiga langkah, yaitu :
1. Persiapan
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah :
• Menentukan pengurus panitia pendakian, yang akan bekerja mengurus : Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya, penentuan jadwal pendakian, persiapan perlengkapan/transportasi dan segala macam urusan lainnya yang berkaitan dengan pendakian.
• Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini biasanya dilakukan dengan berolahraga secara rutin untuk mengoptimalkan kondisi fisik serta memeksimalkan ketahanan nafas. Persiapan mental dapat dilakukan dengan mencari/mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga timbul dalam pendakian beserta cara-cara pencegahan/pemecahannya.
2. Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawa guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunung tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian. Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
 Kelompok pelopor
 Kelompok inti
 Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan (penanggungjawab koordinasi).
Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yang tersedia di setiap base camp pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau juru kunci gunung tersebut.
Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap yaitu : Pelopor di depan (disertai guide), kelompok initi di tengah, dan team penyapu di belakang. Jangan sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang melanggar peraturan ini.
Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan tetap. Setelah tiba di puncak dan di base camp jangan lupa mengecek jumlah peserta, siapa tahu ada yang tertinggal.
3. Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).

V. FISIOLOGI TUBUH DI PEGUNUNGAN
Mendaki gunung adalah perjuangan, perjuangan manusia melawan ketinggian dan segala konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian tempat, maka kondisi lingkungan pun jelas akan berubah. Anasir lingkungan yang perubahannya tampak jelas bila dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan kandungan oksigen udara. Semakin bertambah ketinggian maka suhu akan semakin turun dan kandungan oksigen udara juga semakin berkurang.
Fenomena alam seperti ini beserta konsekuensinya terhadap keselamatan jiwa kita, itulah yang teramat penting kita ketahui dalam mempelajari proses fisiologi tubuh di daerah ketinggian. Banyak kecelakaan terjadi di pegunungan akibat kurang pengetahuan, hampa pengalaman dan kurang lengkapnya sarana penyelamat.
1. Konsekuensi Penurunan Suhu
Manusia termasuk organisme berdarah panas (poikiloterm), dengan demikian manusia memiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk mempertahankan kondisi suhu tubuh terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun suhu yang terlalu ekstrim dapat membahayakan. Jika tubuh berada dalam kondisi suhu yang rendah, maka tubuh akan terangsang untuk meningkatkan metabolisme untuk mempertahankan suhu tubuh internal (mis : dengan menggigil). Untuk mengimbangi peningkatan metabolisme kita perlu banyak makan, karena makanan yang kita makan itulah yang menjadi sumber energi dan tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.
2. Konsekuensi Penurunan Jumlah Oksigen
Oksigen bagi tubuh organisme aerob adalah menjadi suatu konsumsi vital untuk menjamin kelangsungan proses-proses biokimia dalam tubuh, konsumsi dalam tubuh biasanya sangat erat hubungannya dengan jumlah sel darah merah dari konsentrasi haemoglobin dalam darah. Semakin tinggi jumlah darah merah dan konsentrasi Haemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi akan meningkat. Oleh karena itu untuk mengatasi kekurangan oksigen di ketinggian, kita perlu mengadakan latihan aerobic, karena disamping memperlancar peredaran darah, latihan ini juga merangsang memacu sintesis sel-sel darah merah.
3. Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah syarat utama dalam pendakian. Komponen terpenting yang ditinjau dari sudut faal olahraga adalah system kardiovaskulare dan neuromusculare.
Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu akan mengalami hal-hal yang kurang enak, yang disebabkan oleh hipoksea (kekurangan oksigen), ini disebut penyakit gunung (mountain sickness). Kapasitas kerja fisik akan menurun secara menyolok pada ketinggian 2000 meter, sementara kapasitas kerja aerobic akan menurun (dengan membawa beban 15 Kg) dan juga derajat aklimasi tubuh akan lambat.
Mountain sickness ditandai dengan timbulnya gejala-gejala :
• Merasakan sakit kepala atau pusing-pusing
• Sukar atau tidak dapat tidur
• Kehilangan control emosi atau lekas marah
• Bernafas agak berat/susah
• Sering terjadi penyimpangan interpretasi/keinginannya aneh-aneh, bersikap semaunya dan bisa mengarah kepenyimpangan mental.
• Biasanya terasa mual bahkan kadang-kadang sampai muntah, bila ini terjadi maka orang ini harus segera ditolong dengan memberi makanan/minuman untuk mencegah kekosongan perut.
• Gejala-gejala ini biasanya akan lebih parah di pagi hari, dan akan mencapai puncaknya pada hari kedua.
Apabila diantara peserta pendakian mengalami gejala ini, maka perlu secara dini ditangani/diberi obat penenang atau dicegah untuk naik lebih tinggi. Bilamana sudah terlanjur parah dengan emosi dan kelakuan yang aneh-aneh serta tidak peduli lagi nasehat (keras kepala), maka jalan terbaik adalah membuatnya pingsan.
Pada ketinggian lebih dari 3000 m.dpl, hipoksea cerebral dapat menyebabkan kemampuan untuk mengambil keputusan dan penalarannya menurun. Dapat pula timbul rasa percaya diri yang keliru, pengurangan ketajaman penglihtan dan gangguan pada koordinasi gerak lengan dan kaki. Pada ketinggian 5000 m, hipoksea semakin nyata dan pada ketinggian 6000 m kesadarannya dapat hilang sama sekali.
4. Program Aerobik
Program/latihan ini merupakan dasar yang perlu mendapatkan kapasitas fisik yang maksimum pada daerah ketinggian. Kapasitas kerja fisik seseorang berkaitan dengan kelancaran transportasi oksigen dalam tubuh selai respirasi.
Kebiasaan melakukan latihan aerobic secara teratur, dapat menambah kelancaran peredaran darah dalam tubuh, memperbanyak jumlah pembuluh darah yang mrmasuki jaringan, memperbanyak sintesis darah merah, menambah kandungan jumlah haemoglobin darah dan juga menjaga optimalisasi kerja jantung. Dengan terpenuhinya hal-hal tersebut di atas, maka mekanisme pengiriman oksigen melalui pembuluh darah ke sel-sel yang membutuhkan lebih terjamin.
Untuk persiapan/latihan aerobic ini biasanya harus diintensifkan selama dua bulan sebelumnya. Latihan yang teratur ternyata juga dapat meningkatkan kekuatan (endurance) dan kelenturan (fleksibility) otot, peningkatan kepercayaan diri (mental), keteguhan hati serta kemauan yang keras. Didalam latihan diusahakan denyut nadi mencapai 80% dari denyut nadi maksimal, biasanya baru tercapai setelah lari selama 20 menit. Seorang yang dapat dikatakan tinggi kesegaran aerobiknya apabila ia dapat menggunakan minimal oksigen per menit per Kg berat badan. Yang tentunya disesuaikan dengan usia latihan kekuatan juga digunakan untuk menjaga daya tahan yang maksimal, dan gerakan yang luwes. Ini biasanya dengan latihan beban, Untuk baiknya dilakukan aerobic 25-50 menit setiap harinya.

VI. PENGETAHUAN DASAR BAGI MOUNTAINEER
1. Orientasi Medan
A. Menentukan arah perjalanan dan posisi pada peta
• Dengan dua titik di medan yang dapat diidentifikasikan pada gambar di peta. Dengan menggunakan perhitungan teknik/azimuth, tariklah garis pada kedua titik diidentifikasi tersebut di dalam peta. Garis perpotongan satu titik yaitu posisi kita pada peta.
• Bila diketahui satu titik identifikasi. Ada beberapa cara yang dapar dicapai :
1. Kalau kita berada di jalan setapak atau sungai yang tertera pada peta, maka perpotongan garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan jalan setapak atau sungai adalah kedudukan kita.
2. Menggunakan altimeter. Perpotongan antara garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan kontur pada titik ketinggian sesuai dengan angka pada altimeter adalah kedudukan kita.
3. Dilakukan secara kira-kira saja. Apabila kita sedang mendaki gunung, kemudian titik yang berhasil yang diperoleh adalah puncaknya, maka tarik garis dari titik identifikasi itu, lalu perkirakanlah berapa bagian dari gunung itu yang telah kita daki.
B. Menggunakan kompas
Untuk membaca peta sangat dibutuhkan banyak bermacam kompas yang dapat dipakai dalam satu perjalanan atau pendakian, yaitu tipe silva, prisma dan lensa.
C. Peka dalam perjalanan
Dengan mempelajari peta, kita dapat membayangkan kira-kira medan yang akan dilaui atau dijelajahi. Penggunaan peta dan kompas memang ideal, tetapi sering dalam praktek sangat sukar dalam menerapkannya di gunung-gunung di Indonesia. Hutan yang sangat lebat atau kabut yang sangat tebal acap kali menyulitkan orientasi. Penanggulangan dari kemungkinan ini seharusnya dimulai dari awal perjalanan, yaitu dengan mengetahui dan mengenali secara teliti tempat pertama yang menjadi awal perjalanan.
Gerak yang teliti dan cermat sangat dibutuhkan dalam situasi seperi di atas. Ada baiknya tanda alam sepanjang jalan yang kita lalui diperhatikan dan dihafal, mungkin akan sangat bermanfaat kalau kita kehilangan arah dan terpaksa kembali ketempat semula.
Dari pengalaman terutama di hutan dan di gunung tropis kepekaan terhadap lingkungan alam yang dilalui lebih menentukan dari pada kita mengandalkan alat-alat seperti kompas tersebut. Hanya sering dengan berlatih dan melakukan perjalanan kepekaan itu bisa diperoleh.
2. Membaca Keadaan Alam
A. Keadaan udara
• Sinar merah pada waktu Matahari akan terbenam. Sinar merah pada langit yang tidak berawan mengakibatkan esok harinya cuaca baik. Sinar merah pada waktu Matahari terbit sering mengakibatkan hari tetap bercuaca buruk.
• Perbedaan yang besar antara temperature siang hari dan malam hari. Apabila tidak angin gunung atau angin lembab atau pagi-pagi berhembus angina panas, maka diramalkan adanya udara yang buruk. Hal ini berlaku sebaliknya.
• Awan putih berbentuk seperti bulu kambing. Apabila awan ini hilang atau hanya lewat saja berarti cuaca baik. Sebaliknya apabila awan ini berkelompok seperti selimut putih maka datanglah cuaca buruk.
B. Membaca sandi-sandi yang diterapkan di alam, menggunakan bahan-bahan dari alam, seperti :
- Sandi dari batu yang dijejer atau ditumpuk
- Sandi dari batang/ranting yang dipatahkan/dibengkokkan
- Sandi dari rumput/semak yang diikat
Tujuan dari penggunaan sandi-sandi ini apabila kita kehilangan arah dan perlu kembali ke tempat semula atau pulang.
3. Tingkatan Pendakian gunung
Agar setiap orang mengetahui apakah lintasan yang akan ditempuhnya sulit atau mudah, maka dalam olahraga mendaki gunung dibuat penggolongan tingkat kesulitan setiap medan atau lintasan gunung. Penggolongan ini tergantung pada karakter tebing atau gunungnya, temperamen dan penampilan fisik si pendaki, cuaca, kuat dan rapuhnya batuan di tebing, dan macam-macam variabel lainnya.
Kelas 1 : Berjalan. Tidak memerlukan peralatan dan teknik khusus.
Kelas 2 : Merangkak (scrambling). Dianjurkan untuk memakai sepatu yang layak. Penggunaan tangan mungkin diperlukan untuk membantu.
Kelas 3 : Memanjat (climbing). Tali diperlukan bagi pendaki yang belum berpengalaman.
Kelas 4 : Memanjat dengan tali dan belaying. Anchor untuk belaying mungkin diperlukan.
Kelas 5 : Memanjat bebas dengan penggunaan tali belaying dan runner. Kelas ini dibagi lagi menjadi 13 tingkatan.
Kelas 6 : Pemanjatan artificial. Tali dan anchor digunakan untuk gerakan naik. Kelas ini sering disebut kelas A. Selanjutnya dibagi dalam 5 tingkatan.

trip to the gunung puntang

Ada yang tau Wana Wisata Gunung Puntang? ya, mungkin sebagian orang sudah tidak asing, tapi barangkali yang lain masih belum tau atau masih cari cari info, nah saya ada sedikit info nih tentang Gunung Puntang.


Wana wisata Gunung Puntang dengan luas 54.84ha terletak di RPH Banjaran, KPH Bandung Selatan, yang menurut administrasif pemerintahan termasuk Desa CImaung, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Wana wisata ini dapat digunakan sebagai wisata harian dan juga bermalam.

Wana wisata ini terletak pada ketinggian 1300m dpl, konfigurasi lapangan pada umumnya bergelombang. Suhu udara 18-23C curah hujan 2000-2500mm/tahun.

selain dikenal sebagai wisata alam, gunung puntang pun merupakan wisata pendidikan terutama wisata sejarah, terlebih di lokasi ini terdapat situs kompleks perkantoran dan perumahan dinas yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas lengkap yang dikenal dengan nama Stasion Radio Malabar Gunung Puntang lengkap dengan pembangkit listriknya. Dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1919.

Stasion MAlabar Gunung Puntang, saat itu merupakan stasion Radio terbesar pertama di Asia. Tahun 1923 dipimpin oleh Dr.Ir.CJ Debroot.

Menurut sejarah, dilokasi ini dulunya kompleks rumah dinas yang dilengkapi dengan tenis, kolam renang, pertokoan dan bioskop. Adpun para pejabat yang menempati rumah dinas saat itu diantaranya Mr.Han Moo Key, Mr.Nelan, Mr.Vallaken, Mr.Bickman, Mr.Hodskey, Ir. Ong Keh Kong dan tiga orang putra bangsa yaitu Djukanda, Sudjono dan Sopandi.


Semula obyek wisata Gunung Puntang memiliki luas 51ha pada saat ditemukannya lokasi oleh Sdr. Utay Muchtar (tokoh sesepuh), ia sedang membersihkan ilalang dan secara tidak terduga ia menemukan tanah yang beraspal menuju keatas gunung. Jalan beraspal tersebut ia telusuri dan ternyata ujung jalan itu bekas kompleks. Karena saat ditemukan keadaannya sudah hancur. Bangunannya hanya tinggal puing-puingnya saja. Setelah ditemukan selanjutnya oleh Utay Muchtar dilaporakan kepada pihak perhuatni dan ternyata diketahui lokasi itu pernah terlupakan selama 44 tahun.

Baru akhir tahun 1987 pihak perhutani mulai menangani lokasi itu unutk dijadikan obyek wisata yang dianggap benar-benar menyimpan aset sejarah bangsa.


sebagai wisata alam, Gunung Puntang pn tak kalah lengkap, bagi anda para pecinta petualangan akan disajikan pemandangan luar biasa dengan hawa yang dingin, selain itu masih banyak satwa liar yang dapat ditemui, ditambah dengan sungai yang mengalir cukup deras dengan air yang cukup jernih yang berasal dari CURUG SILIWANGI yang masih berada di Komplek wisata Gunung Puntang,


fasilitasnyapun cukup lengkap, mulai dari VilLa yang dapat disewa,camping Ground, dan akses jalan yang cukup baik. Untuk mencapai Gunung Puntang, wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi dari pusat Kota Bandung, lokasi yang berjarak sekitar 30 kilometer arah selatan dapat melalui Soreang untuk kemudian ke Cimaung atau melalui Buahbatu dan M. Toha untuk kemudian ke Banjaran dan akhirnya ke Cimaung.

Sementara bagi yang menggunakan angkutan umum, mereka dapat menggunakan sarana angkutan dari Leuwipanjang (arah Soreang) atau Tegallega (arah M. Toha) dan Buahbatu (arah Dayeuhkolot). well, have a nice trip, , semoga membantu, hatur nuhun.

Puisi Sunda

ieu teh mangrupakeun sababaraha syair sastra sunda , , lamun ditilik hiji hiji eusina mangrupikeun hiji leunyeupaneun pikeun urang sarerea, waas, mangga saderek sadaya anu rumaos urang sunda mugi mugi mangpaat, hatur nubun, wilujeung

KAMANA ANGIN PRIANGAN ???

seungit angin priangan, ngusapan embun-embunan
hawar-hawar rerendahan ngahariring ayun ambing
seungit angin kayangan, sumerep na lelembutan
hawar-hawar rerendahan ngahariring éling-éling mangka éling

waas éta tembang
kamari katineungkeun kénéh
dihariringkeun disisi huma, mumunggang Cikuray lebah handap
dipirig haliwir angin, digupay dangdaunan
dialokan ricit piit
mangsana patani ngaguar leuweung pihumaeun
ngagecruk pacul mapag taneuh beureum
malikkeun kanyaah ka lembur pamatuhan
lembur tempat kuring digubragkeun ka alam dunya
lembur tempat kuring digedekeun di pangulinan
lembur tempat kuring tatapa nyiar pangarti
maguran di padepokan jati Sunda

waas eta tembang
harita dihaleuangkeun
dipiring jentreng kacapi, jeung gelikna suling
mapag usum ngijih, rek tebar binih
dangdaunan nu maruragan kokoleangan
nambah sarina kanyaah ka mangsa lawas
mangsana panceg jungkiringnya Pajajaran
mangsana seungit nyambuangna Siliwangi
kakoncara ka sakabeh Nusantara
pamolahna ki Sunda harita
dina Palagan Bubat
ciri siloka urang Sunda nu digjaya
najan nepi kamana, ka waktu iraha
moal leungit
moal musnah
asal aya nu mikanyaah

waas eta tembang
ayeuna tinggal panineungan
geus leungit silokana
tinggal waasna wungkul
catetan nu aya tinggal jungkiringna
kasilih ku rohakana caah modernisasi
runggunuk huma geus teu mangrupa
ledokna pasawahan geus luntur warnana
seungit tatangkalan geus murag sarina
kasilih … kaganti
lalaunan … najan samar-samar
leungit … kasapu haliwir angin globalisasi

najan kitu
kumaha urang
nyaah atawa tega
miara atawa palastra
jati Sunda
jati urang sarerea



GERENTES NU NGANGRES


Gulidag rasa bet tuluy ngamuara jeroeun dada
Sedengkeun tanggul cimata karasa rek bengkah nangtang ca’ah nu rongkah
Sawirahma jeung ratugna dulag na jajantung
Kapireng galindeng takbir nu antare ngagerihan pikir

Nyanggakeun sadaya-daya…
Rumasa jadi jalma loba katuna
Palidkeun kuring di lautan hampura Anjeun, Yaa..Robbanaa…
Malar Rohmat Anjeun cindek tur lana.

Alloohu Akbar..
Walillaahilhamd..


Sabda Sunda

Ku: Sanghyang Mughni Pancaniti

Sunda moal leungit ku ganti wanci
Sunda moal laas ku robah mangsa
Sunda moal luntur ku kurunyung taun
Sunda moal helas ku ilang bulan

Sunda geus ngancik dina ati
Sunda geus nyayang dina dada
Sunda Geus kaukir dina fikir
Sunda geus manunggal dina rasa

Brah lumampah.. migawe sunda nu nyata
jung lumaku.. migawe sunda nu luhung
jig geura indit.. migawe sunda nu sajati
Tanda syukur ka Gusti nu Maha Suci

Dimana geus eling kitu.
Rek ka wetan, Prak..!
Rek ka kidul, jug..!
Rek ka kaler, perk..!
Rek ka kulon, los..!


RUMINGKANG

ku : Bunga Dessri Nur Ghaliyah

ari diri keur nyorang…

pikiran sok ngawang-ngawang…

hate hariwang

paanggang

lamun emutan beurat…

kadang sok hayang ngadat

kapeurih ngagedat

ngolebat…

kasuat-suat…

aya anggang dina raga…

katresna dina dada…

kingkin dina jiwa…

kamana kudu diteang?

na kamana kuring kudu datang?

anjeunna geus miang…

raga jadi anggang…

tapi…

tapi ati tetep raket

hate deukeut…

geugeut…

meumeut…

lain waktuna kesel…

geus lain usumna sebel…

ngado’a…

menta kanu maha kawasa…

mapalerkeun jiwa…

nenangkeun raga

matak tiis dina dada…

yakin da Gusti mah moal mirosea…

mikanyaah balarea…

kaasup anjeunna nu aya di alam baka…

tangtu rahmatna bakal dibuka…

amin…


Sumirat Cahya Dina Wewengkon Sukma

Gung Degung Ngadegna Hyang Agung
Mapag kidung….. Cianjuran ciri anu ngajurung pangabdian
Patarema jeung gelik suling nu ngajak diri…Nyumurup nyumerepkeun ka eling
Ka Gusti Nu Maha Suci
Pamuntangan diri pikeun sakumna pangabdi
Hayu mulang kana ka sajatian
Jati nu mawa kawalagrian
Jati nu mawa kasampurnaan
Jati nu baris mayungan ku kasalametan
Asyhadu anlaa ila ha ilalloh wa asyhadu anna Muhammadarosulluloh
Teu daya teu upaya anging gusti Nu Maha Kawasa